SmS : 0812 8657 6168

mferrywong@yahoo.com

 

Konseling & Terapi

Home Care Therapy + Conseling

(Sesuai Perjanjian)

 

WA. 0812 8657 6168, BBM 7f9aaabc

 

SIPT : 448/77/SIPT/DINKES/XII/2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Batu Empedu 

 

Definisi

Batu Empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu. Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu disebut kolelitiasis, sedangkan batu di dalam saluran empedu disebut koledokolitiasis. 

 

Penyebab

Batu empedu lebih banyak ditemukan pada wanita dan faktor resikonya adalah :
- usia lanjut
- kegemukan (obesitas)
- diet tinggi lemak
- faktor keturunan.

Komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol, sebagian kecil lainnya terbentuk dari garam kalsium. Cairan empedu mengandung sejumlah besar kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan diluar empedu. Sebagian besar batu empedu terbentuk di dalam kandung empedu dan sebagian besar batu di dalam saluran empedu berasal dari kandung empedu. Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran atau setelah dilakukan pengangkatan kandung empedu. Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis), infeksi pankreas (pankreatitis) atau infeksi hati. Jika saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya. 

Wanita lebih banyak pada laki-laki, semakin tinggi umur semakin tinggi terkena batu kandung empedu ini, pada pasien diatas 40 tahun akan lebih berisiko untuk terjadinya batu kandung empedu. Di Amerika 25 % wanita berumur 60 tahun mengalami batu empedu dan setelah diatas 75 tahun hampir 50 % mengalami batu empedu. Resiko lain untuk terjadinya batu kandung empedu antara lain obesitas, diabetes mellitus, pasien dengan sindrom metabolik yaitu dengan  obesitas, kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) yang rendah, trigliserida yang tinggi, tekanan darah yang tinggi, dan juga dengan gula darah yang tinggi, riwayat keluarga dengan kandung empedu, diet tinggi lemak dan tinggi kolesterol dan rendah serat dan yang menarik juga ternyata penurunan berat badan yang mendadak juga bisa menyebabkan terbentuknya batu kandung empedu. 

Bagi pasien yang sudah dioperasi kandung empedunya juga tetap harus menjaga makannya karena bisa saja terbentuknya pasir dan batu pada saluran empedunya walau kandung empedunya sudah diangkat. 

 

Gejala

Sebagian besar batu empedu dalam jangka waktu yang lama tidak menimbulkan gejala, terutama bila batu menetap di kandung empedu. Kadang - kadang batu yang besar secara bertahap akan mengikis dinding kandung empedu dan masuk ke usus halus atau usus besar, dan menyebabkan penyumbatan usus (ileus batu empedu). Yang lebih sering terjadi adalah batu empedu keluar dari kandung empedu dan masuk ke dalam saluran empedu. Dari saluran empedu, batu empedu bisa masuk ke usus halus atau tetap berada di dalam saluran empedu tanpa menimbulkan gangguan aliran empedu maupun gejala. Jika batu empedu secara tiba-tiba menyumbat saluran empedu, maka penderita akan merasakan nyeri. Nyeri cenderung hilang-timbul dan dikenal sebagai nyeri kolik.Nyeri timbul secara perlahan dan mencapai puncaknya, kemudian berkurang secara bertahap. Nyeri bersifat tajam dan hilang-timbul, bisa berlangsung sampai beberapa jam. Lokasi nyeri berlainan, tetapi paling banyak dirasakan di perut atas sebelah kanan dan bisa menjalar ke bahu kanan. Penderita seringkali merasakan mual dan muntah. Jika terjadi infeksi bersamaan dengan penyumbatan saluran, maka akan timbul demam, menggigil dan sakit kuning (jaundice). Biasanya penyumbatan bersifat sementara dan jarang terjadi infeksi. Nyeri akibat penyumbatan saluran tidak dapat dibedakan dengan nyeri akibat penyumbatan kandung empedu. Penyumbatan menetap pada duktus sistikus menyebabkan terjadinya peradangan kandung empedu (kolesistitis akut). Batu empedu yang menyumbat duktus pankreatikus menyebabkan terjadinya peradangan pankreas (pankreatitis), nyeri, jaundice dan mungkin juga infeksi. Kadang nyeri yang hilang-timbul kambuh kembali setelah kandung empedu diangkat, nyeri ini mungkin disebabkan oleh adanya batu empedu di dalam saluran empedu utama. 

Gejala utama peradangan empedu termasuk batu kandung empedu adalah nyeri perut. Nyeri perut sendiri adalah suatu keadaan yang sering ditemukan dan mengantarkan pasien datang ke RS baik di poliklinik maupun gawat darurat RS. Pasien yang datang ke Poliklinik penyakit dalam 30 % karena nyeri perut dan 50-60 % yang datang ke konsultan penyakit lambung dan pencernaan. Nyeri perut yang terjadi bisa tiba-tiba atau kronis. Nyeri perut berhubungan dengan organ yang terkena yang menimbulkan nyeri perut tersebut. Nyeri perut di ulu hati tidak selalu berasal dari lambung atau maag, bisa berasal dari pancreas, kandung empedu, liver atau usus dua belas jari. Bahkan nyeri perut di ulu hati juga bisa berhubungan dengan serangan jantung dalam hal ini serangan jantung bagian bawah (infark miokard inferior). 

Nyeri ulu hati karena masalah kandung empedu terjadi karena adanya peradangan pada kandung empedu baik berlangsung akut maupun kronis.  Nyeri ulu hari karena masalah di kandung empedu bisa juga terjadi karena adanya batu pada kandung empedu. Jika dianalisa lebih lanjut batu kandung empedu terdiri dari batu kolesterol dan batu pigmen. Nyeri karena adanya batu kandung empedu berlangsung beberapa saat dan berulang (kolik bilier), biasanya nyeri tersebut dapat menjalar ke punggung belakang. Untuk mengetahui penyebab dari nyeri ulu hati tersebut perlu dilakukan USG abdomen. Melalui pemeriksaan USG abdomen dapat diketahui apakah ada peradangan baik akut maupun kronis pada kandung empedu tersebut. Selain itu melalui pemeriksaan USG juga diidentifikasi adanya batu pada kandung empedu.  Pemeriksaan USG abdomen juga dapat mengevaluasi saluran empedu, bisa mengidentifikasi adanya pelebaran saluran empedu. Beberapa gejala umum adalah :

- Nyeri Perut

- Mual

- Muntah

- Demam, Menggigil

- Sakit Kuning (Jaundice)

 

Diagnosa

Pemeriksaan terbaik untuk menemukan batu empedu adalah dengan pemeriksaan USG dan kolesistografi. Pada kolesistografi, foto rontgen akan menunjukkan jalur dari zat kontras radioopak yang telah ditelan, diserap di usus, dibuang ke dalam empedu dan disimpan di dalam kandung empedu.
Jika kandung empedu tidak berfungsi, zat kontras tidak akan tampak di dalam kandung empedu. Jika kandung empedu berfungsi, maka batas luar dari kandung empedu akan tampak pada foto rontgen. Diagnosis batu di dalam saluran empedu ditegakkan berdasarkan adanya nyeri perut, jaundice, menggigil dan demam. Hasil pemeriksaan darah biasanya menunjukkan pola fungsi hati yang abnormal, yang menunjukkan adanya penyumbatan saluran empedu. Beberapa pemeriksaan lainnya yang bisa memberikan informasi tambahan untuk membuat diagnosis yang pasti adalah:
- USG
- CT scan
- Berbagai teknik foto rontgen yang menggunakan zat kontras radioopak untuk menggambarkan saluran empedu.

 

Pengobatan

Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi makanan berlemak. Pada kasus yang memang memerlukan oeprasi, saat ini sebagian besar RS juga telah menerapkan tehnik  laparaskopi untuk pengangkatan  kandung empedu tersebut, Melalui tehnik ini masa rawat manjadi pendek, komplikasi paska operasi menjadi minimal. 

 

Batu Kandung Empedu

Jika batu kandung empedu menyebabkan serangan nyeri berulang meskipun telah dilakukan perubahan pola makan, maka dianjurkan untuk menjalani pengangkatan kandung empedu (kolesistektomi). Pengangkatan kandung empedu tidak menyebabkan kekurangan zat gizi dan setelah pembedahan tidak perlu dilakukan pembatasan makanan. Sekitar 1-5 orang dari setiap 1.000 orang yang menjalani kolesistektom meninggal. Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dan sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopi. Kandung empedu diangkat melalui selang yang dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut. Jenis pembedahan ini memiliki keuntungan sebagai berikut :
- Mengurangi rasa tidak nyaman pasca pembedahan 
- Memperpendek masa perawatan di rumah sakit.

Teknik lainnya untuk menghilangkan batu kandung empedu adalah:
- Pelarutan dengan metil-butil-eter
- Pemecahan dengan gelombang suara (litotripsi)
- Pelarutan dengan terapi asam empedu menahun (asam kenodiol dan asam ursodeoksikolik).

 

Batu Saluran Empedu

Batu saluran empedu bisa menyebabkan masalah yang serius, karena itu harus dikeluarkan baik melalui pembedahan perut maupun melalui suatu prosedur yang disebut endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP). Pada ERCP, suatu endoskop dimasukkan melalui mulut, kerongkongan, lambung dan ke dalam usus halus. Zat kontras radioopak masuk ke dalam saluran empedu melalui sebuah selang di dalam sfingter Oddi. Pada sfingterotomi, otot sfingter dibuka agak lebar sehingga batu empedu yang menyumbat saluran akan berpindah ke usus halus. ERCP dan sfingterotomi telah berhasil dilakukan pada 90% kasus. Kurang dari 4 dari setiap 1.000 penderita yang meninggal dan 3-7% mengalami komplikasi, sehingga prosedur ini lebih aman dibandingkan pembedahan perut.

Komplikasi yang mungkin segera terjadi adalah:
- Perdarahan
- Peradangan pankreas (pankreatitis)
- Perforasi atau infeksi saluran empedu.

Pada 2-6% penderita, saluran menciut kembali dan batu empedu muncul lagi. Batu kandung empedu tidak dapat diangkat melalui prosedur ERCP. ERCP saja biasanya efektif dilakukan pada penderita batu saluran empedu yang lebih tua, yang kandung empedunya telah diangkat. 

 

Pencegahan
Karena komposisi terbesar batu empedu adalah kolesterol, sebaiknya menghindari makanan berkolesterol tinggi yang pada umumnya berasal dari lemak hewani.

Sumber : http://indonesiaindonesia.com/f/10777-batu-empedu/  

 

 

Pengobatan Non Operasi

Ursodeoxycholic Acid disingkat UDCA, adalah salah satu asam empedu sekunder, yang merupakan produk samping dari metabolisme bakteri usus. Asam empedu primer diproduksi oleh hati dan disimpan dalam kantung empedu. Ketika disekresi ke dalam usus besar, asam empedu primer dapat dimetabolisme menjadi asam empedu sekunder oleh bakteri usus. Asam empedu sekunder dan primer membantu tubuh mencerna lemak. Asam Ursodeoxycholic membantu mengatur kolesterol dengan mengurangi penyerapan lemak oleh usus. Karena kemampuannya tersebut, asam ursodeoxycholic digunakan untuk mengobati kolesterol batu empedu non-pembedahan. Asam Ursodeoxycholic bekerja dengan empat cara, yaitu:

1. Meningkatkan laju aliran empedu dari hepatosit, sehingga memerangi kolestasi dan pengenceran asam empedu beracun di empedu.

2. Menghambat produksi asam empedu beracun dalam tubuh sehingga mampu mencegah cedera hepatosit.

3. Menghambat apoptosis (kematian sel yang terprogram secara genetik).

4. Menghambat respon imun dalam hati, sehingga mengurangi kemungkinan cedera imunologi ke saluran empedu dan hati.

Sumber : http://apotekarofat.blogspot.com/2010/12/obat-kolesterol-batu-empedu.html

 

 

Kebanyakan Santan Sebabkan Gangguan Empedu 

Jum'at, 30 September 2011 16:44 wib

 

INDONESIA kaya akan kuliner. Dan itu tidak diragukan lagi. Dengan berbagai varian rasa dan penyajian. Namun, sebagian besar kuliner khas Indonesia banyak mengandung santan. Inilah yang harus diwaspadai. Sejatinya lemak dibutuhkan oleh tubuh. Tanpa lemak, tubuh tidak berbentuk. Lemak berfungsi untuk menutupi rangka tubuh manusia. “Ya, tubuh juga membutuhkan lemak. Fungsinya buat memberi lapisan pada tulang manusia supaya berbentuk,” kata dr Prasna Pramita SpPD. 

Namun jika berlebihan, lemak bisa menumpuk dalam tubuh. Banyaknya lemak yang menumpuk dalam tubuh ini kemudian membuat sel-sel hati bekerja lebih ekstra untuk menghasilkan cairan empedu. Sekadar diketahui, cairan empedu dalam berwarna hijau kecokelatan. Cairan empedu berperan dalam proses penyerapan lemak dan beberapa vitamin A, D, E, dan K.
“Karena biasanya lemaknya banyak. Cairan empedu penting dalam pencernaan terutama penyerapan lemak,” ujarnya.
Cairan empedu disimpan di kandung atau kantong empedu yang terletak di bawah organ hati. Bentuknya terlihat seperti buah pir. Kantong empedu memiliki kapasitas penampungan sebanyak 50 ml cairan empedu. Panjangnya sekitar 7-10 cm. Organ ini terhubung dengan hati dan usus dua belas jari melalui saluran empedu. Nah, apa yang terjadi ketika makanan yang kita konsumsi mengandung lemak yang berlebihan? Ya, batu empedu adalah salah satu penyakit yang bisa terjadi.

“Kalau orangnya saja sudah memiliki bakat, sudah punya kolesterol, akan lebih banyak lagi tumpukan kolesterolnya. Dan sangat bisa mencetuskan batu empedu. Tendensinya bisa saja sampai 30 persen,” sambungnya. Batu empedu bisa terbentuk ketika kadar lemak tinggi dan hati tidak bisa lagi mengeluarkannya dari dalam tubuh. Menurut dr Prasna, proses terbentuknya batu empedu terjadi secara bertahap. Kolesterol yang tidak bisa diekskresikan akan mengendap terlebih dahulu. 

“Pertama, mengendap dulu. Terus biasanya juga terjadi penebalan dinding empedu. Itu kalau di-USG, kelihatan terjadi penebalan,” katanya.

Hal tersebut yang kemudian memicu terjadinya perubahan kimiawi pada empedu. Perubahan secara kimiawi pada empedu tersebut yang kemudian dikenal dengan istilah batu empedu. Batu empedu juga bisa disebabkan oleh timbunan zat lain seperti tumpukan pigmen bilirubin, dan juga garam kalsium yang membentuk partikel seperti kristal padat. Batu empedu yang terbentuk dari tumpukan kolesterol berwarna kekuningan serta tampak mengkilat seperti minyak. Sedangkan batu empedu yang terbentuk dari tumpukan pigmen bilirubin berwarna hitam tapi keras atau berwarna cokelat tua tapi rapuh.

Timbulnya batu empedu dapat menyebabkan berbagai masalah bila masuk dalam saluran pencernaan, usus halus. Terkadang batu empedu juga sering muncul pada saluran empedu sendiri. Bila batu empedu terdapat pada kandung empedu, dapat mengakibatkan peradangan yang disebut kolestitis akut. Kolestitis akut tersebut disebabkan oleh pecahan batu empedu di dalam saluran empedu yang menimbulkan rasa sakit berlebihan. 

Gejala yang ditimbulkan mirip dengan gejala maag.  Hal ini terjadi karena letak kandungan empedu yang berdekatan dengan lambung. Bahkan tak jarang orang mengira sakit maag padahal sudah terdapat batu empedu pada saluran empedunya. 

“Gejalanya memang enggak ada yang khas. Gejala yang ringan suka kembang, mual, muntah. Kalau makan lemak jadi tambah sakit, sendawa jadi lebih sering, dan buang gas,” terangnya. 

Lantaran gejalanya yang tidak khas dan sangat mirip dengan maag, biasanya pasien merujuk pada dokter dengan keluhan tersebut.
“Biasanya dokter akan kasih obat maag. Tapi kok enggak sembuh-sembuh. Biasanya baru ketahuan setelah di-USG,” imbuhnya. 

Namun, sebenarnya gejala batu empedu berbeda dengan maag. Hal ini bisa dibedakan pada penjalaran dan frejuensi nyeri. Pada penderita maag, rasa sakit atau nyeri biasanya timbul secara perlahan hingga akhirnya rasa sakit itu terasa begitu hebat. Sedangkan pada batu empedu, rasa sakit tersebut bisa muncul secara tiba-tiba dengan rasa sakit yang sangat dan rasa sakit bisa hilang dengan begitu saja.

“Bila sudah sakit sekali, gejala colic yang sering terjadi,” ujarnya. 

Gejala-gejala tersebut akan terjadi berulang. Penegakan diagnose untuk batu empedu dilakukan dengan pemeriksaan USG. Peralatan diarahkan pada tubuh dan gelombang yang dipantulkan akan dibaca oleh system computer. Atau bisa juga dilakukan dengan pemeriksaan foto sinar X dan pemeriksaan darah di laboratorium. 

Perempuan diketahui sangat rentan mengidap batu empedu. Selain itu, kemungkinan munculnya batu empedu juga meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Disebutkan beberapa orang juga berpotensi lebih gampang terserang batu empedu seperti orang yang sedang menjalani program yang bertujuan untuk menghilangkan berat badan yang cepat dengan cara-cara apa pun, diet-diet kalori atau dengan operasi, menyebabkan batu empedu kolesterol pada 50 persen dari total orang yang menjalankan program tersebut. Individu yang sering berhubungan dengan pil pengontrol kelahiran dan terapi hormon juga berisiko terserang batu empedu. Individu dengan penyakit Crohn dari terminal ileum (usus halus) sangat memungkinkan membentuk batu empedu. Batu-batu empedu terbentuk karena pasien penyakit Crohn mengalami kekurangan asam-asam empedu yang cukup untuk melarutkan kolesterol dalam empedu. 

Bagaimana mengatasinya? Pertama sekali adalah mengistirahatkan kantong atau kandung empedu. Pengobatan atau terapi yang biasanya dilakukan adalah pemberian kombinasi obat Chenodeoxycholic Acid (CCDA) dan Ursodeoxycholic Acid (UDCA). Keduanya memiliki fungsi yang berbeda-beda.
“Pengobatan terapi kombinasi CCDA (mengurangi sintesis kolesterol) dan UDCA (mengurangi penyerapan kolesterol). Diharapkan terapi ini bisa menyembuhkan batu empedu tanpa efek samping,” katanya. Namun berdasarkan penelitian, terapi tersebut hanya bisa mencegah dan tidak bisa menghilangkan batu empedu. Untuk dapat menghilangkan batu empedu, tetap diperlukan tindakan medis. Ada dua pilihan yang bisa dilakukan.
“Laparoskopi atau operasi bedah biasa,” ujarnya. 

Beda dari dua tindakan tersebut terdapat pada caranya. Laparoskopi hanya menimbulkan bekas seperti tusukan di perut. Dan prosesnya menggunakan control computer. Sedangkan operasi bedah biasa sudah jelas menimbulkan bekas robekan. Pada intinya, tindakan medis yang dilakukan bertujuan untuk mengangkat kantong atau kandung empedu. Akibatnya, pasien tak bisa lagi mengonsumsi makanan yang mengandung lemak. 

“Karena enggak ada lagi yang nanti memproses lemak di tubuh,” jelas dr Prasna.

 

Sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2011/09/30/195/509199/kebanyakan-santan-sebabkan-gangguan-empedu 

 

 

Mencegah Dan Mengatasi Batu Empedu Secara Alamiah

Oleh : Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma (alm)

Kandung empedu merupakan organ berbentuk buah pir kecil yang terletak di perut sebelah kanan, dan tersembunyi di bawah hati. Kandung empedu menyimpan cairan empedu yang dihasilkan oleh hati. Selama makan, kandung empedu akan berkontraksi (menciut) sehingga mengeluarkan sedikit cairan empedu yang berwarna hijau kecoklatan ke dalam usus halus. Cairan empedu berguna dalam penyerapan lemak dan beberapa vitamin, seperti vitamin A, D, E, dan K. Empedu merupakan campuran dari asam empedu, protein, garam-garam kalsium, pigmen dan unsur lemak yang disebut kolesterol. Sebagian dari empedu yang memasuki usus halus akan diteruskan dan dikeluarkan melalui feses.

Kelainan utama yang dapat timbul pada kandung empedu adalah terbentuknya batu. Hal ini juga dapat terjadi pada saluran empedu. Batu empedu disebabkan oleh perubahan secara kimiawi pada empedu seseorang. Batu empedu terbentuk dari endapan kolesterol, pigmen bilirubin dan garam kalsium yang mengeras, namun kebanyakan batu kandung empedu terbentuk dari kolesterol. Timbulnya batu empedu akan menjadi masalah bila masuk ke salah satu saluran yang menuju ke usus halus. Kadang-kadang batu dapat terbentuk dalam saluran empedu itu sendiri, misalnya karena bekas jahitan pada suatu operasi.

Pada kandung empedu, batu dapat menyebabkan peradangan yang disebut kolestitis akut, hal ini karena adanya pecahan batu empedu di dalam saluran empedu yang menimbulkan rasa sakit. Batu-batu yang melalui kantong empedu dapat menyangkut di dalam hati dan saluran empedu, sehingga menghentikan aliran dari empedu ke dalam saluran pencernaan. Di samping itu, terdapat faktor lainnya yang memulai terjadinya proses pembentukan batu empedu. Unsur ini bisa berupa protein yang terdapat pada cairan lendir yang dibentuk kandung empedu dalam jumlah kecil. Hal ini memungkinkan kolesterol, bilirubin, dan garam kalsium membentuk partikel seperti kristal padat. Bentuk dari batu empedu bermacam - macam, yaitu batu yang terbentuk dari kolesterol berwarna kuning dan mengkilat seperti minyak, batu yang terdiri dari pigmen bilirubin bisa berwarna hitam tetapi keras atau berwarna coklat tua tetapi rapuh. Ukurannya juga bermacam-macam dari yang kecil hingga sebesar batu kerikil, tetapi rata-rata berdiameter 1 - 2 cm.

Meskipun penyakit kantong empedu tidak menunjukkan gejala, pada keadaan memburuk gejala yang biasa ditimbulkan adalah serangan pada waktu makan makanan yang mengandung lemak tinggi jika seseorang sudah mengidap batu empedu. Hal ini terjadi karena lemak tersebut memicu hormon merangsang kantung empedu berkontraksi sehingga memaksa empedu yang tersimpan masuk ke dalam duodenum yaitu jalan keluar menuju usus kecil, jika batu menghambat aliran empedu maka akan timbul gejala seperti sakit yang akut pada sebelah kanan atas perut dan mengarah ke punggung, antara bahu dan ke dada depan. Gejala lainnya yaitu kolik, sendawa, gas dalam perut, gangguan pencernaan, berkeringat, mual, muntah, kedinginan, suhu tubuh agak tinggi, penyakit kuning (bila batu empedu menghalangi saluran empedu), dan feses berwarna coklat.

Penyakit batu kandung empedu dan saluran empedu biasanya menyerang orang-orang berusia antara 20 - 50 tahun. Penyakit ini 6 kali lebih sering terjadi pada wanita sampai usia 50 tahun. Di atas usia tersebut sama untuk kedua jenis kelamin. Selain itu, wanita yang mengalami lebih dari 2 kali kehamilan, maka resiko mendapatkan batu empedu semakin tinggi. Obesitas/kegemukan mempunyai resiko menderita batu empedu lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak obesitas. Beberapa upaya pencegahan terbentuknya batu empedu yang dapat ditempuh antara lain menjaga berat badan agar tetap normal, menurunkan kolesterol, dan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat. Tetapi di lain pihak, diet keras untuk menurunkan berat badan dengan cepat dapat merangsang hati untuk mengeluarkan kolesterol dalam jumlah besar ke dalam cairan empedu, sehigga dapat menimbulkan batu empedu.

Untuk mengetahui apakah tubuh kita terdapat batu empedu digunakan suatu alat pendeteksi batu empedu yang disebut ultrasound, yaitu dengan menggunakan gelombang suara yang tidak dapat didengar telinga. Gelombang suara ini diarahkan ke tubuh dan pantulan gelombangnya kemudian diolah komputer yang akan menunjukkan ada atau tidaknya batu empedu. Selain itu batu empedu dapat diketahui melalui foto sinar X dan pemeriksaan darah di laboratorium.

Bagi penderita batu empedu, prinsip utama perawatannya yaitu mengistirahatkan kandung empedu. Hindari makanan berlemak karena lemak merangsang kandung empedu untuk bekerja keras. Kandungan protein dalam diet cukup 1 - 1 ˝ gram per berat badan setiap hari. Kalori perlu pula dibatasi, karena kebanyakan penderita batu empedu juga penderita obesitas. Bahan makanan yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan juga
harus dihindari.

Cara alamiah yang dapat digunakan untuk mengatasi batu empedu yaitu :

30 gram daun keji beling segar + 30 gram sambiloto segar + 60 gram
rambut jagung direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya
disaring, diminum hangat-hangat.

60 gram herba kumis kucing segar + 30 gram tongkol jagung + 30 gram daun meniran segar direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya
disaring, diminum hangat-hangat.

 

30 gram daun sendok segar + 30 gram daun kembang pukul empat segar + 100 gram akar alang-alang direbus dengan 700 ccc air hingga tersisa 300 cc, airnya disaring, diminum hangat-hangat.

Minum jus apel sebanyak 4 gelas setiap hari selama 5 hari. Pada hari ke-6 lakukan puasa, dan pada saat berbuka puasa minum air putih + 30 gram garam inggris, pada pukul 20.00 minum ˝ gelas air lemon + ˝ gelas minyak zaitun, aduk lalu diminum. 

 

Catatan :

Anda dapat menggunakan salah satu cara tradisional di atas, lakukan secara teratur sehari 2 kali. Dalam melakukan perebusan gunakan panci enamel atau periuk tanah. Tetep konsultasi ke dokter.

 

Sumber : http://tipsehat.blogspot.com/2005/12/mencegah-dan-mengatasi-batu-empedu.html