|
|
Bulan Pembersihan Diri Jurnal
Bogor, 13 & 14 August 2010
Secara
alamiah, manusia dalam hidupnya berupaya meraih ketenteraman hati dan
ketenangan pikiran. Namun kenyataannya, manusia seringkali mengalami
gelisah, resah, gundah hati dan kacau pikiran. Dalam kondisi ini, manusia merasa seolah-olah pintu jalan keluar telah tertutup rapat-rapat dan dunia yang membentang luas ini nampak sempit. Sebagian filsuf Barat menganalisis bahwa penyebab kegelisahan manusia adalah rasa terasing dan terputusnya hubungan dari sumber segala kebaikan, kesucian dan keindahan, yakni Allah Swt. Salah satu alat untuk tidak terputusnya hubungan dengan Allah, yakni melakukan puasa, terutama puasa Ramadhan. Jalaluddin Rumi pernah bercerita tentang seorang penduduk Konya yang punya kebiasaan aneh; ia suka menanam duri di tepi jalan. Ia menanami duri itu setiap hari sehingga tanaman berduri itu tumbuh besar. Mula-mula orang tidak merasa terganggu dengan duri itu. Mereka mulai protes ketika duri itu mulai bercabang dan menyempitkan jalan orang yang melewatinya. Hampir setiap orang pernah tertusuk durinya. Yang menarik, bukan orang lain saja yang terkena tusukan itu, si penanamnya pun berulang kali tertusuk duri dari tanaman yang ia pelihara. Petugas
Kota Konya lalu datang dan meminta agar orang itu menyingkirkan tanaman
berduri itu dari jalan. Orang itu enggan untuk menebangnya. Tapi akhirnya
setelah perdebatan yang panjang, orang itu berjanji untuk
menyingkir-kannya keesokan harinya. Ternyata di hari berikutnya, ia
menangguhkan pekerjaannya itu. Demikian pula hari berikutnya. Hal itu
terus menerus terjadi, sehingga akhirnya, orang itu sudah amat tua dan
tanaman berduri itu kini telah menjadi pohon yang amat kokoh. Orang itu
tak sanggup lagi untuk mencabut pohon berduri yang ia tanam. Perjalanan para pelaku puasa Ramadhan dimulai dengan pembersihan diri dengan pemangkasan duri-duri yang kita tanam melalui perilaku kita yang tercela. Jika tidak segera dibersihkan, duri itu satu saat akan menjadi terlalu besar untuk kita pangkas dengan memakai senjata apa pun. Praktik pembersihan diri itu dalam tasawuf disebut sebagai praktik takhliyyah, yang artinya mengosongkan, membersihkan, atau mensucikan diri. Seperti halnya jika kita ingin mengisi sebuah botol dengan air mineral yang bermanfaat, pertama-tama kita harus mengosongkan isi botol itu terlebih dahulu. Sia-sia saja bila kita memasukkan air bersih ke dalam botol, bila botol itu sendiri masih kotor. Proses pembersihan diri itu disebut takhliyyah. Kita melakukan hal itu melalui beberapa cara. (Bersambung)
Jurnal
Bogor, 14 August 2010
Seperti halnya jika kita ingin mengisi sebuah botol dengan air mineral yang bermanfaat, pertama-tama kita harus mengosongkan isi botol itu terlebih dahulu. Sia-sia saja bila kita memasukkan air bersih ke dalam botol, bila botol itu sendiri masih kotor. Proses pembersihan diri itu disebut takhliyyah. Kita melakukan hal itu melalui beberapa cara. Pertama,
lapar. Upaya untuk membersihkan diri dari ketundukan kepada hawa nafsu.
Menahan lapar, yang merupakan bagian paling terasa dalam berpuasa
Ramadhan, ternyata menghasilkan banyak keuntungan dalam perjalanan seorang
pusuluk, yaitu penempuh jalan Allah, termasuk didalamnya orang yang
berpuasa Ramadhan, akan selalu setia melangkah di jalan Allah. Ketika seseorang memperoleh kedudukan spiritual yang mulia dari keyakinan, maka ia tidak peduli lagi bagaiamana mengawali harinya, apakah dengan mudah atau sulit, dengan kesedihan atau kenyamanan. Keadaan seperti ini adalah keadaan yang dirasakan oleh orang-orang yang telah mencapai maqom ridho dan barangsiapa meraih maqom ini, berarti ia telah memperoleh tiga karakteristik yang menyatu dalam dirinya : syukur yang tidak terkontaminasi dengan kejahilan, dzikir yang tidak tercampur dengan kelalaian dan cinta yang tidak tercampur dengan cinta kepada selain Aku.” Ketiga, adalah shaum di bulan Ramadhan. Tugas terpenting dari seorang pesuluk di bulan yang suci dan barokah ini adalah memahami hak bulan Ramadhan ketika Allah berkenan mengundang seluruh mukmin, para pesuluk yang berada di jalan-Nya, untuk menghadiri sebuah perjamuan istimewa. Seorang pesuluk, seharusnya memahami makna hakiki berpuasa dan relevansinya dengan undangan Allah Swt tersebut. Setelah berhasil menyingkap makna hakiki dan relevansi itu, ia mesti berupaya keras meletakkan semua sikap dan tindak-tanduknya dalam bingkai ridho Ilahi. Setiap perbuatannya haruslah didasari niat berkhidmat dan berlaku ikhlas guna meraih ridho Sang Tuan Rumah yang Maha Pemurah, Allah SWT. Setelah menempuh praktik pembersihan diri itu, para pelaku puasa Ramadhan kemudian mengamalkan praktik tahliyyah. Yang termasuk pada golongan ini adalah praktik zikir dan khidmah atau pengabdian kepada sesama. Salah
satu bentuk nyatanya adalah membantu saudara-saudara kita yang kelaparan
dan kehausan. Ketika kita membantu mereka, martabat kita langsung mulia
dihadapan Allah. Manusia-manusia yang lapar dan haus ini merupakan lambang
sosial yang harus diperhatikan oleh mereka-mereka yang selama ini
berlebihan dalam hal makanan dan minuman. Keduanya baik yang lapar atau
haus, maupun yang kenyang saling membutuhkan. Kedua kondisi ini, dalam
pandangan Allah tetaplah sama. Sudah
saatnya kita harus memikirkan nasib mereka. Di bulan Ramadhan inilah
waktunya kita memulai langkah-langkah kebaikan. Lebih sempurna lagi, kita
berperilaku sosial bukan hanya di bulan Ramadhan saja. Akan tetapi,
setiap saat kita harus memperhatikan, memikirkan dan membantu nasib
mereka. Agar setiap saat, diri kita martabatnya menjadi mulia di bulan
Ramadhan. Kalau sudah begitu, membantu orang-orang yang susah atau peduli
kepada orang lain, merupakan sebuah life style yang positif dan moderen.
Semoga kita semua, bisa melakukannya.
Sumber : http://www.jurnalbogor.com/?p=119315 http://www.jurnalbogor.com/?p=119551 |