SmS : 0812 8657 6168

mferrywong@yahoo.com

 

Konseling & Terapi

Home Care Therapy + Conseling

(Sesuai Perjanjian)

 

WA. 0812 8657 6168, BBM 7f9aaabc

 

SIPT : 448/77/SIPT/DINKES/XII/2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diabetes

by. M. Ferry Wong

 

Diabetes Millitus atau kencing manis adalah penyakit yang bersifat sistemik sehingga dapat melibatkan berbagai sistem tubuh dan dapat merusak jaringan tubuh seperti kerusakan pada retina mata, ginjal, jantung, dan komplikasi lainnya.

 

Ada 3 tipe Diabetes Millitus, yaitu :

1. IDDM ( Insulin Dependent Diabetes Millitus )

Sangat tergantung pada insulin. Disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin alami untuk mengontrol kadar glukosa darah.

 

2. NIDDM ( Non-Insulin Dependent Diabetes Millitus )

Tidak tergantung insulin. Disebabkan oleh gangguan metabolisme dan penurunan fungsi hormon insulin dalam mengontrol kadar glukosa darah dan hal ini bisa terjadi karena faktor genetik dan juga dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat.

 

3. Gestational Diabetes

Disebabkan oleh gangguan hormonal pada wanita hamil.

 

Faktor Penyebab Diabetes Millitus

  • Gangguan metabolisme , dimana tubuh tidak dapat memanfaatkan glukosa / gula darah untuk diubah menjadi energi / tenaga.

  • Gangguan / tidak berfungsinya hormon insulin dalam tubuh sehingga terjadi penumpukan kadar glukosa / gula dalam darah.

  • Gangguan / kerusakan pada sistem pankreas yang menyebabkan terganggunya produksi insulin.

  • Faktor generik , menurunnya kualitas / mutu dan kuantitas produksi hormon insulin serta penderita obesitas / kegemukan ( mayoritas penderita Diabetes Millitus umumnya mengalami kelebihan berat badan ) .

 

Gejala Diabetes Millitus :

  • Kadar glukosa / gula darah diatas normal ( hyperglikemia ) .

  • Rasa lapar berlebihan dan terus menerus ( polyphagia ) , sehingga banyak makan namun badan tetap lemas ( tidak bertenaga ) dan sering diikuti dengan penurunan berat badan yang cepat.

  • Sering merasa haus sehingga banyak minum ( polydipsia ) .

  • Sering kencing / kencing berlebihan.

  • Urin berbuih dan mengandung gula ( glukosuria ) .

  • Jika terjadi luka sulit sembuh.

 

Komplikasi :

  • Katarak , Mata Rabun , Menurunnya fungsi penglihatan

  • Sesak Napas , Sinusitis , Batuk tidak berhenti

  • Obesitas , menurunnya berat badan , nafsu makan

  • Sulit buang air kecil maupun besar

  • Sering buang kecil

  • Ganggu ginjal

  • Ejakulasi dini

  • Disfungsi ereksi

 

 

 

Diabetes Day, Si Manis Yang Membahayakan

Jurnal Bogor, 20 Nop 2009
Rubrik : Kesehatan

Bulan ini memang bulan diabetes, dimana seluruh dunia memperingati Hari Diabetes Sedunia. Peringatan bersama ini diselenggarakan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai diabetes. Dari data dan perkembangan yang ada, Indonesia merupakan negara urutan keempat setelah India, Cina, dan Amerika Serikat dengan jumlah penderita diabetes hampir 8,5 juta orang. Ada beberapa klasifikasi penyakit Diabetes Mellitus (DM), yaitu DM tipe 1 yang disebabkan karena kekurangan insulin absolut, DM tipe2 dikarenakan kekurangan insulin relatif, DM gestasional disebabkan kehamilan, dan DM tipe lain yang biasanya disebabkan penyakit-penyakit pada kelenjar pankreas, baik langsung maupun tidak langsung. Penyakit DM terjadi ketika kadar gula (glukosa) dalam darah berlebih, sehingga menjadi racun bagi tubuh penderita.

Pada DM tipe 1, sel-sel beta di kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin yang memecah karbohidrat menjadi energi yang diperlukan tubuh. Ketidakmampuan tersebut disebabkan kerusakan sebagian kecil maupun sebagian besar sel beta pankreas akibat suatu penyakit atau sebab lain. 

Akibatnya, pasokan insulin dari pankreas berkurang atau terhenti sehingga tubuh tidak dapat mengubah karbohidrat menjadi glukosa. Untuk itu, tubuh memecah lemak untuk memperoleh energi sehingga lemak tubuh berkurang dan tubuh menjadi kurus.

Sedangkan pada DM tipe 2, insulin yang dihasilkan pankreas tidak mencukupi atau sel lemak dan tubuh menjadi kebal terhadap insulin. Akibatnya, distribusi glukosa ke seluruh tubuh terganggu. Umumnya gejala-gejala penyakit DM ialah sering haus, sehingga membuat penderita banyak minum, banyak makan namun berat badan terus menurun, mudah lelah, penglihatan kabur, kesemutan, kebas di ujung-ujung jari, serta infeksi kulit yang sukar sembuh.

Orang yang beresiko tinggi menderita DM, antara lain berusia lebih dari 45 tahun, ada riwayat DM pada keluarga, berat badan melebihi 120 persen dari berat badan ideal (TB-100)-10%, tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg, serta kehamilan dengan berat badan bayi yang lahir lebih dari 4.000 gram.
Dalam mendiagnosis penyakit DM tidak hanya dilihat pada adanya kadar glukosa dalam air seni tapi juga yang paling penting, dilakukan pemeriksaan glukosa darah dalam aliran darah. Kadar glukosa darah waktu puasa ialah < 100 mg/dl dan kadar glukosa darah 2 jam sesudah puasa adalah < 140 mg/dl.

Lalu, sebenarnya apa sih fungsi insulin dalam tubuh?  Insulin adalah hormon yang disekresi oleh pankreas. Pankreas merupakan organ yang letaknya di belakang lambung dan memiliki fungsi memproduksi enzim-enzim pencernaan dan hormon. Ketika karbohidrat diserap dari usus halus ke dalam darah, pankreas akan terangsang untuk melepaskan insulin secara proposial. 

Kebanyakan sel tubuh memiliki reseptor insulin yang mengikat insulin yang beredar dalam tubuh. Dengan adanya reseptor insulin tersebut, sel-sel dapat menyerap glukosa dari aliran darah ke dalam sel. Sel memanfaatkan glukosa dan nutrisi lainnya sebagai energi. Tanpa insulin, Anda bisa banyak makan tapi tetap merasa lapar karena banyak sel tubuh tidak menjaring glukosa tanpa bantuan insulin. Inilah yang terjadi pada penderita diabetes tipe 1. Gangguan pada produksi insulin di pankreas dapat menyebabkan kadar gula dalam darah terganggu.

oleh: Ferry Wong (Pakar Pengobatan Tradisional)

Nasia Freemeta Iskandar ; nasiaf@jurnas.com

Sumber : http://www.jurnalbogor.com/?p=64884 

 

 

 

 

Terapi Herbal Bagi Diabetes

Jurnal Bogor, Posted by Fahmi Fahlevi on January 7th, 2011
Rubrik : Kesehatan

 

Bogor - Ada daun salam, mengkudu, juga lidah buaya. Mengapa obat tradisional itu sangat digandrungi oleh penderita diabetes mellitus? Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan. 

 

Pertama, mahalnya biaya yang harus dikeluarkan bila menggunakan obat antidiabetes konvensional, mengingat penderita wajib minum obat setiap hari.

 

Kedua, terbatasnya jumlah obat antidiabetes yang dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien serta efek samping minimal. Dan ketiga, Indonesia kaya akan bahan alam yang berpotensi obat, namun belum dimanfaatkan optimal. Padahal bila kekayaan alam itu didukung riset memadai, tak mustahil Indonesia jadi produsen obat herbal terkemuka.

 

Seperti telah disebutkan tadi, tanaman tersebut memang berkhasiat sebagai obat. Di dalam tanaman itu, berdasarkan pengalaman nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun sampai diperkuat bukti-bukti riset ilmiah, membuktikan bila terdapat bahan aktif mengandung hipoglemik. “Zat kimia itu mampu menurunkan kadar gula darah yang melejit di atas normal,” jelas Pakar Pengobatan Tradisional M. Ferry Wong kepada Jurnal Bogor, kemarin.

 

Misalnya daun salam. Tanaman ini telah menjalani serangkaian penelitian sebagai obat antidiabetes. Secara tradisional, masyarakat sudah lama memanfaatkan daun salam untuk mengontrol diabetes. Dalam sebuah penelitian, ekstrak daun salam ini mempunyai efek hipoglikemik pada penyandang diabetes yang kadar gula darahnya di bawah 200 mg/dl. Jika digunakan lebih dari 200 mg/dl, ekstrak daun salam tidak memberi efek signifikan. Sementara untuk penggunaan pada penyandang diabetes yang kadar gula darahnya di bawah 200 mg/dl, dosis dipakai adalah 250 mg tiga kali sehari.

 

Selanjutnya mengkudu atau dikenal juga dengan nama pace. Kandungan proxeronine di dalam buah punya rasa pahit ini membantu perbaiki sel beta pankreas yang rusak. Selain itu juga mampu memperbaiki reseptor insulin yang tidak berfungsi baik, karena ia bekerja meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. “Mengkudu termasuk tanaman obat nasional. Dalam pemakaian tertentu, buah ini berkhasiat mengontrol gula darah penyandang diabetes,” kata Ferry.

 

Hal itu kembali diperkuat berdasarkan hasil penelitian terbaru terhadap khasiat buah ini dilakukan Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, Guru Besar Farmasi Universitas Indonesia. Penelitian yang dilakukan bersama tim peneliti di Pusat Studi Obat Bahan Alam (PS-OBA) Departemen Farmasi Universitas Indonesia.

 

Dari hasil uji pre klinis tersebut terbukti mengkudu efektif dan aman menurunkan tekanan darah tinggi dan menstabilkan kadar gula darah serta tidak memberikan efek samping. Ini hasil menggembirakan untuk penderita hipertensi dan diabetes. Disamping daun salam dan mengkudu, lidah buaya pun punya potensi serupa.

Diabetes merupakan penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat digunakan tubuh. Pada orang sehat, karbohidrat dalam makanan yang dimakan akan diubah menjadi glukosa yang kemudian didistribusikan ke seluruh sel tubuh untuk dijadikan energi dengan bantuan insulin.

Namun pada orang menderita diabetes, glukosa sulit masuk ke dalam sel karena sedikit atau tidak adanya zat insulin dalam tubuh. Akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi yang nantinya memberikan efek samping bersifat merugikan.

 

= Nasia Freemeta I

nasiaf@jurnas.com

Sumber : http://www.jurnalbogor.com/?p=147436