|
|
Diabetes by. M. Ferry Wong
Diabetes Millitus atau kencing manis adalah penyakit yang bersifat sistemik sehingga dapat melibatkan berbagai sistem tubuh dan dapat merusak jaringan tubuh seperti kerusakan pada retina mata, ginjal, jantung, dan komplikasi lainnya.
Ada 3 tipe Diabetes Millitus, yaitu : 1. IDDM ( Insulin Dependent Diabetes Millitus ) Sangat tergantung pada insulin. Disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin alami untuk mengontrol kadar glukosa darah.
2. NIDDM ( Non-Insulin Dependent Diabetes Millitus ) Tidak tergantung insulin. Disebabkan oleh gangguan metabolisme dan penurunan fungsi hormon insulin dalam mengontrol kadar glukosa darah dan hal ini bisa terjadi karena faktor genetik dan juga dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat.
3. Gestational Diabetes Disebabkan oleh gangguan hormonal pada wanita hamil.
Faktor Penyebab Diabetes Millitus
Gejala Diabetes Millitus :
Komplikasi :
Diabetes Day, Si Manis Yang Membahayakan
Jurnal Bogor, 20 Nop 2009 Bulan ini memang bulan diabetes, dimana seluruh dunia memperingati Hari Diabetes Sedunia. Peringatan bersama ini diselenggarakan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai diabetes. Dari data dan perkembangan yang ada, Indonesia merupakan negara urutan keempat setelah India, Cina, dan Amerika Serikat dengan jumlah penderita diabetes hampir 8,5 juta orang. Ada beberapa klasifikasi penyakit Diabetes Mellitus (DM), yaitu DM tipe 1 yang disebabkan karena kekurangan insulin absolut, DM tipe2 dikarenakan kekurangan insulin relatif, DM gestasional disebabkan kehamilan, dan DM tipe lain yang biasanya disebabkan penyakit-penyakit pada kelenjar pankreas, baik langsung maupun tidak langsung. Penyakit DM terjadi ketika kadar gula (glukosa) dalam darah berlebih, sehingga menjadi racun bagi tubuh penderita. Pada DM tipe 1, sel-sel beta di kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin yang memecah karbohidrat menjadi energi yang diperlukan tubuh. Ketidakmampuan tersebut disebabkan kerusakan sebagian kecil maupun sebagian besar sel beta pankreas akibat suatu penyakit atau sebab lain. Akibatnya, pasokan insulin dari pankreas berkurang atau terhenti sehingga tubuh tidak dapat mengubah karbohidrat menjadi glukosa. Untuk itu, tubuh memecah lemak untuk memperoleh energi sehingga lemak tubuh berkurang dan tubuh menjadi kurus. Sedangkan pada DM tipe 2, insulin yang dihasilkan pankreas tidak mencukupi atau sel lemak dan tubuh menjadi kebal terhadap insulin. Akibatnya, distribusi glukosa ke seluruh tubuh terganggu. Umumnya gejala-gejala penyakit DM ialah sering haus, sehingga membuat penderita banyak minum, banyak makan namun berat badan terus menurun, mudah lelah, penglihatan kabur, kesemutan, kebas di ujung-ujung jari, serta infeksi kulit yang sukar sembuh. Orang
yang beresiko tinggi menderita DM, antara lain berusia lebih dari 45 tahun,
ada riwayat DM pada keluarga, berat badan melebihi 120 persen dari berat
badan ideal (TB-100)-10%, tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg, serta
kehamilan dengan berat badan bayi yang lahir lebih dari 4.000 gram. Lalu, sebenarnya apa sih fungsi insulin dalam tubuh? Insulin adalah hormon yang disekresi oleh pankreas. Pankreas merupakan organ yang letaknya di belakang lambung dan memiliki fungsi memproduksi enzim-enzim pencernaan dan hormon. Ketika karbohidrat diserap dari usus halus ke dalam darah, pankreas akan terangsang untuk melepaskan insulin secara proposial. Kebanyakan
sel tubuh memiliki reseptor insulin yang mengikat insulin yang beredar dalam
tubuh. Dengan adanya reseptor insulin tersebut, sel-sel dapat menyerap
glukosa dari aliran darah ke dalam sel. Sel memanfaatkan glukosa dan nutrisi
lainnya sebagai energi. Tanpa insulin, Anda bisa banyak makan tapi tetap
merasa lapar karena banyak sel tubuh tidak menjaring glukosa tanpa bantuan
insulin. Inilah yang terjadi pada penderita diabetes tipe 1. Gangguan pada
produksi insulin di pankreas dapat menyebabkan kadar gula dalam darah
terganggu. oleh:
Ferry Wong (Pakar
Pengobatan Tradisional) Nasia
Freemeta Iskandar ; nasiaf@jurnas.com Sumber
: http://www.jurnalbogor.com/?p=64884
Terapi
Herbal Bagi Diabetes
Jurnal Bogor, Posted by Fahmi Fahlevi on
January 7th, 2011
Bogor - Ada daun salam, mengkudu, juga lidah buaya. Mengapa obat tradisional itu sangat digandrungi oleh penderita diabetes mellitus? Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan.
Pertama, mahalnya biaya yang harus dikeluarkan bila menggunakan obat antidiabetes konvensional, mengingat penderita wajib minum obat setiap hari.
Kedua, terbatasnya jumlah obat antidiabetes yang dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien serta efek samping minimal. Dan ketiga, Indonesia kaya akan bahan alam yang berpotensi obat, namun belum dimanfaatkan optimal. Padahal bila kekayaan alam itu didukung riset memadai, tak mustahil Indonesia jadi produsen obat herbal terkemuka.
Seperti telah disebutkan tadi, tanaman tersebut memang berkhasiat sebagai obat. Di dalam tanaman itu, berdasarkan pengalaman nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun sampai diperkuat bukti-bukti riset ilmiah, membuktikan bila terdapat bahan aktif mengandung hipoglemik. “Zat kimia itu mampu menurunkan kadar gula darah yang melejit di atas normal,” jelas Pakar Pengobatan Tradisional M. Ferry Wong kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Misalnya daun salam. Tanaman ini telah menjalani serangkaian penelitian sebagai obat antidiabetes. Secara tradisional, masyarakat sudah lama memanfaatkan daun salam untuk mengontrol diabetes. Dalam sebuah penelitian, ekstrak daun salam ini mempunyai efek hipoglikemik pada penyandang diabetes yang kadar gula darahnya di bawah 200 mg/dl. Jika digunakan lebih dari 200 mg/dl, ekstrak daun salam tidak memberi efek signifikan. Sementara untuk penggunaan pada penyandang diabetes yang kadar gula darahnya di bawah 200 mg/dl, dosis dipakai adalah 250 mg tiga kali sehari.
Selanjutnya mengkudu atau dikenal juga dengan nama pace. Kandungan proxeronine di dalam buah punya rasa pahit ini membantu perbaiki sel beta pankreas yang rusak. Selain itu juga mampu memperbaiki reseptor insulin yang tidak berfungsi baik, karena ia bekerja meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. “Mengkudu termasuk tanaman obat nasional. Dalam pemakaian tertentu, buah ini berkhasiat mengontrol gula darah penyandang diabetes,” kata Ferry.
Hal itu kembali diperkuat berdasarkan hasil penelitian terbaru terhadap khasiat buah ini dilakukan Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, Guru Besar Farmasi Universitas Indonesia. Penelitian yang dilakukan bersama tim peneliti di Pusat Studi Obat Bahan Alam (PS-OBA) Departemen Farmasi Universitas Indonesia.
Dari hasil uji pre klinis tersebut terbukti mengkudu efektif dan aman menurunkan tekanan darah tinggi dan menstabilkan kadar gula darah serta tidak memberikan efek samping. Ini hasil menggembirakan untuk penderita hipertensi dan diabetes. Disamping daun salam dan mengkudu, lidah buaya pun punya potensi serupa. Diabetes merupakan penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat digunakan tubuh. Pada orang sehat, karbohidrat dalam makanan yang dimakan akan diubah menjadi glukosa yang kemudian didistribusikan ke seluruh sel tubuh untuk dijadikan energi dengan bantuan insulin. Namun pada orang menderita diabetes, glukosa sulit masuk ke dalam sel karena sedikit atau tidak adanya zat insulin dalam tubuh. Akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi yang nantinya memberikan efek samping bersifat merugikan.
= Nasia Freemeta I nasiaf@jurnas.com Sumber : http://www.jurnalbogor.com/?p=147436
|