SmS : 0812 8657 6168

mferrywong@yahoo.com

 

Konseling & Terapi

Home Care Therapy + Conseling

(Sesuai Perjanjian)

 

WA. 0812 8657 6168, BBM 7f9aaabc

 

SIPT : 448/77/SIPT/DINKES/XII/2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LUPUS

by. M. Ferry Wong + Seminar + berbagai sumber

Setiap 10 Mei diperingati sebagai hari LUPUS dunia. 

 

Tubuh memiliki kekebalan untuk menyerang penyakit dan menjaga tetap sehat. Namun, apa jadinya jika kekebalan tubuh justru menyerang organ   tubuh yang  sehat. Penyakit Lupus diduga berkaitan dengan sistem imunologi yang berlebih. Penyakit ini tergolong misterius. Lupus merupakan penyakit yang menyerang perubahan  sistem kekebalan perorangan, yang sampai kini belum diketahui penyebabnya. Penyakit ini muncul akibat kelainan fungsi sistem kekebalan tubuh. Dalam tubuh seseorang terdapat antibodi yang berfungsi menyerang sumber penyakit yang akan masuk dalam tubuh. Uniknya, penyakit Lupus ini antibodi yang terbentuk dalam tubuh muncul berlebihan. Hasilnya, antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat.Kelainan ini disebut autoimunitas .

LUPUS adalah sebutan umum dari suatu kelainan imunitas tubuh (Lupus Erythematosus). Lupus bukan penyakit "MENULAR". Dalam ilmu kedokteran disebut "Systemic Lupus Erythematosus" (SLE), yaitu ketika penyakit ini sudah meyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia. Dalam istilah sederhana, seseorang dapt dikatakan menderita penyakit "LUPUS". Erythematosus saat tubuhnya menjadi "Alergi" pada dirinya sendiri. Kata LUPUS berasalah dari istilah bahasa Latin yang berarti "Serigala". Hal ini disebabkan penderita ini pada umumnya memiliki ciri-ciri butterfly rash (ruam merah) berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa di pipi serigala, tetapi berwarna putih.

Data sejak 2011 mengumpulkan bahwa 5 juta penderita LUPUS terdapat di seluruh belahan dunia. Jumlah ini terus bertambah 100.000 orang setiap tahunnya. Ras Asia lebih tinggi dibandingkan lainnya. Diperkirakan terdapat sekitar 1.5 juta penderita Lupus di Indonesia, namun YLI (Yayasan Lupus Indonesia) baru tercatat 789 orang. Di RS Ciptomangunkusumo Jakarta, dari 71 kasus yang ditangani  sejak awal 1991 sampai akhir 1996 , 1 dari 23 penderitanya adalah laki-laki. Hampir 90% diderita oleh kaum Perempuan.

Antibodi yang berlebihan ini, bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua cara  yaitu :

Pertama, antibodi aneh ini bisa langsung menyerang jaringan sel tubuh, seperti pada sel-sel darah merah yang menyebabkan  selnya akan hancur.  Inilah yang  mengakibatkan  penderitanya kekurangan sel darah merah atau anemia.

Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pembentukan  antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks imun.Gabungan  antibodi  dan antigen mengalir bersama darah, sampai tersangkut di pembuluh darah kapiler akan menimbulkan peradangan. Dalam keadaan normal, kompleks ini akan dibatasi oleh sel-sel radang (fagosit). Tetapi, dalam keadaan abnormal,  kompleks ini tidak dapat dibatasi dengan baik. Malah sel-sel radang tadi bertambah banyak sambil mengeluarkan  enzim, yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks. Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak organ  tubuh dan mengganggu fungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat sebagai  gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang fungsi organ  tubuh akan terganggu.

 

Autoimmune Disease :

Tubuh menjadi overacting terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi yang malah ditujukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. 

 

Jenis-jenis Penyakit Lupus :

  1. Cutaneus Lupus (Seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit)

  2. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) = Menyerang organ tubuh, seperti : kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf.

  3. Drug Induces Lupus (DIL) = Timbul karena menggunakan oabt-obatan tertentu, setelah pemakaian dihentikan, umumnya gejala akan hilang.

 

Gejala-gejala Penyakit Lupus :

Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Eritomatosus  artinya kemerahan, sedangkan sistemik  bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh. Istilahnya disebut LES atau Lupus. Beberapa gejala dapat diketahui dari : 

  • Berbeda-beda antar penderita masing-masing.

  • Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari

  • Timbulnya gangguan pencernaan.  

  • Sering merasa lemah,  kelelahan  yang berlebihan

  • Demam

  • Pegal-pegal. 

  • Sulit mendeteksi penyakit secara umum, dibutuhkan serangkai tes.Terkadang terdapat gejala-gejala seperti penyakit lainnya, hal ini disebabkan karena organ tubuh yang terserang bisa berbeda-beda pada tiap penderitanya. Misalnya : bila yang serang "DARAH", maka gejalanya mirip dengan orang yang menderita anemia. Sedangkan bila yang diserang "MULUT", maka penderita dapat mengalami sariawan yang berkepanjangan dengan anggapan sebagai gejala kekurangan vitamin C.

  • Munculnya bercak-bercak merah pada hidung dan kedua pipi membentuk seperti : kupu-kupu yang disebut "Butterfly Rash".

  • Bercak-bercak merah juga dapat terjadi pada tubuh bagian lainnya, seperti : pundak, tangan.

  • Dalam tahap lanjut dapat menyebabkan kerontokan rambut, rasa lelah yang berlebihan, kerusakan pada organ tubuh, hingga mengalami gejla seperti pada penderita kanker.

Gejala ini terutama didapatkan pada masa aktif, sedangkan pada masa remisi (nonaktif) menghilang. Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Kadang disebut  (butterfly rash). Namun ruam merah menyerupai cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan kadang-kadang bersisik. Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai mengidap  Lupus. Untuk sembuh total dari penyakit ini, tampaknya sulit. Dokter lebih berfokus pada pengobatan yang sifatnya sementara.Lebih difokuskan untuk mencegah meluasnya penyakit dan tidak menyerang organ vital tubuh.

 

Deteksi Penyakit LUPUS :

Cara untuk mengetahui apakah seseorang benar terkena penyakit lupus dapat dilakukan serangkai tes laboratorium , seperti :

  • Antibodi Antinuklear (ANA) = Mengetahui pola pendarahan umum pada penderita Lupus.

  • Anti ds-DNA Nukleosom = Tes lanjutan setelah didapati hasil positif dari tes ANA. Tes ini untuk memastikan diagnosis positif terhadap penyakit "LUPUS".

Selain hal diatas, diagnosis juga dapat ditegakkan dengan melihat 4 dari 11 gejala yang khas dari penyakit Lupus, sebagai berikut :

  1. Ruam kupu-kupu pada wajah (pipi dan pangkal hidung)

  2. Ruam pada kulit, seperti : pundak

  3. Hasil pemeriksaan darah positif untuk Antibodi Antinuklear (ANA).

  4. Luka pada mulut (biasanya tidak menimbulkan nyeri).

  5. Cairan disekitar paru-paru, jantung dan organ lainnya.

  6. Artitis pada sendi-sendi besar.

  7. Kelainan fungsi ginjal, seperti : Kadar protein dalam air kemih >0.5mg/hari atau +++, adanya elemen abnormal dalam air kemih yang berasal dari sel darah merah/putih maupun sel tubulus ginjal.

  8. Kelainan darah, seperti : anemia hemolitik, Leukopenia (jumlah leukosit <4.000 sel/mm), Limfopenia (jumlah limfosit < 1.500 sel/mm), Trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000 /mm).

 

Faktor Penyebab Penyakit Lupus :

Lupus merupakan penyakit yang menyerang perubahan  sistem kekebalan perorangan, yang sampai kini belum diketahui penyebabnya. Penyakit ini muncul akibat kelainan fungsi sistem kekebalan tubuh. Namun setelah diteliti penyebab Lupus dapat disebabkan karena faktor keturunan dan lingkungan. Penyakit ini justru diderita wanita usia produktif sampai usia 50 tahun.   Namun begitu, ada juga pria  yang mengalaminya. Ahli menduga penyakit ini berhubungan dengan hormon estrogen.

Karena Lupus menyerang wanita subur, kerap menimbulkan berbagai aspek kesehatan. Misalnya hubungan dengan kehamilan yang menyebabkan abortus, gangguan perkembangan janin atau pun bayi meninggal saat lahir. Namun, hal ini bisa saja terjadi sebaliknya. Artinya, justru kehamilan bisa 

memperburuk gejala Lupus. Sering dijumpai gejala Lupus muncul sewaktu hamil atau setelah melahirkan.

 

Pengelolaan Penyakit LUPUS :

Pada umumnya penderita Lupus (Odipus / orang yang hidup dalam Lupus) kan menghindari hal-hal yang dapat membuat penyakitnya kambuh dengan :

  1. Menjaga agar tidak langsung terkena sinar matahari.

  2. Hindari pemakaian obat tertentu.

  3. Menjaga beban kerja

  4. Hindari stres

  5. Menjaga pola makan

  6. Menjaga pola hidup dengan gerakan olahraga ringan.

  7. Konsultasi ke dokter

  8. Terapi Akupunktur dan herbal pendukung

Sumber : Berbagai sumber seminar kesehatan dan internet.